Tulungagung – Komitmen dalam mengembangkan keilmuan filologi dan kajian turats (khazanah keilmuan klasik) terus ditunjukkan oleh mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab (BSA) UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Salah satunya melalui partisipasi aktif dalam kegiatan Dauroh Tahqiq: Pelatihan Tahqiq Turats Nusantara yang dilaksanakan pada 5–7 Januari 2026 di Rumah YM3SK Sunggingan 71.
Kegiatan ini diikuti oleh berbagai peserta dari kalangan mahasiswa dan pegiat kajian manuskrip Islam klasik. Rifqi Hasan Ali, mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Arab UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, turut ambil bagian dalam dauroh tersebut sebagai bentuk penguatan kompetensi akademik, khususnya dalam bidang tahqiq (kritik dan penyuntingan teks).

Dauroh Tahqiq Turats Nusantara merupakan pelatihan intensif yang berfokus pada metodologi tahqiq manuskrip klasik, terutama naskah-naskah turats yang berkembang di wilayah Nusantara. Dalam kegiatan ini, para peserta dibekali pemahaman teoritis sekaligus praktik langsung terkait teknik verifikasi teks, penelusuran varian naskah, penyusunan aparatus kritik, hingga penyajian edisi ilmiah sesuai kaidah akademik.
Selama tiga hari pelaksanaan, peserta mendapatkan materi tentang urgensi pelestarian turats Nusantara sebagai warisan intelektual Islam yang memiliki kekhasan lokal. Selain itu, peserta juga dilatih membaca manuskrip beraksara Arab dan Arab-Pegon, serta mengidentifikasi kesalahan penyalinan (tashif dan tahrif) dalam proses transmisi naskah.
Rifqi Hasan Ali menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat relevan dengan disiplin keilmuannya di bidang Bahasa dan Sastra Arab. Menurutnya, kemampuan tahqiq tidak hanya penting bagi peneliti filologi, tetapi juga menjadi fondasi akademik bagi mahasiswa yang ingin mendalami kajian teks klasik, sastra Arab, maupun studi keislaman berbasis manuskrip.

“Melalui dauroh ini, saya mendapatkan pengalaman langsung dalam menelaah manuskrip turats Nusantara serta memahami metode penyuntingan teks secara ilmiah. Ini menjadi bekal penting untuk penelitian ke depan,” ungkapnya.
Rumah YM3SK Sunggingan 71 sebagai lokasi kegiatan menjadi ruang belajar yang kondusif bagi diskusi dan praktik intensif. Suasana akademik yang hangat dan kolaboratif turut memperkaya pengalaman peserta dalam mendalami dunia tahqiq.
Partisipasi mahasiswa BSA UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung dalam kegiatan ini diharapkan dapat mendorong lahirnya penelitian-penelitian berbasis manuskrip Nusantara, sekaligus memperkuat tradisi akademik dalam pelestarian warisan intelektual Islam di Indonesia.
Melalui kegiatan seperti Dauroh Tahqiq Turats Nusantara, generasi muda akademisi diharapkan mampu menjadi jembatan antara khazanah klasik dan kebutuhan intelektual kontemporer, sehingga turats tidak hanya tersimpan sebagai arsip sejarah, tetapi juga terus hidup dalam diskursus ilmiah masa kini.


