Prodi BSA- Jurusan Adab, Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah melaksanakan kegiatan Seri Sekolah Peradaban dengan topik “Expert Talk #4: Hebrew and Arabic in Dialogue: Sociolinguistic Perspective.” Kegiatan ini menghadirkan narasumber Mufti Rasyid (UIN Sayyid Ali Rahmatullah TUlungagung- Indonesia) dan Guys Gefen( University of Copenhagen Denmark), serta diikuti oleh dosen dan mahasiswa UIN, juga peserta dari beberapa perguruan tinggi luar kampus. Acara ini dibuka dan sekaligus dipandu oleh kajur Adab, Dr. Rizka Ahmadi, Lc., MA dan kata sambutan disampaikan oleh Koorprodi BSA, Dr. Nuryani, S.Ag., M.Pd.I.
Acara ini menjadi ruang dialog ilmiah yang mempertemukan perspektif kebahasaan, sosial, dan budaya dalam melihat hubungan antara bahasa Ibrani dan bahasa Arab.
Dalam kegiatan ini, pembahasan berfokus pada hubungan antara bahasa Ibrani dan bahasa Arab dari sudut pandang sosiolinguistik, yakni bagaimana kedua bahasa tersebut hidup, berkembang, dan digunakan dalam konteks sosial, budaya, dan sejarah masyarakat penuturnya.
Dalam sesi diskusi, narasumber mengulas hubungan bahasa Ibrani dan bahasa Arab dari perspektif sosiolinguistik. Pembahasan mencakup kedekatan historis kedua bahasa sebagai bagian dari rumpun Semit, persamaan dan perbedaan unsur kebahasaan, serta bagaimana bahasa berperan sebagai cermin identitas sosial dan budaya. Selain itu, forum ini juga menyoroti pentingnya dialog antarbasa sebagai jembatan peradaban dan sarana memperluas wawasan akademik lintas disiplin.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Jurusan Adab sebagai bagian dari penguatan tridarma perguruan tinggi, khususnya dalam pengembangan budaya akademik. Tujuannya adalah membuka ruang diskusi ilmiah yang mempertemukan dosen, mahasiswa, dan akademisi lintas kampus dalam satu forum intelektual. Tema ini juga sangat relevan untuk memperkaya kajian kebahasaan, sastra, serta studi peradaban yang menjadi bagian dari konsentrasi keilmuan di lingkungan jurusan.
Kegiatan ini memberikan kesan yang sangat positif karena menghadirkan topik yang unik, aktual, dan jarang dibahas dalam forum akademik sehari-hari. Diskusi berlangsung menarik karena peserta tidak hanya diajak memahami bahasa dari sisi struktur, tetapi juga dari sisi sosial, budaya, dan peradaban. Kehadiran narasumber dari latar belakang yang berbeda juga menambah kekayaan perspektif dan memperkuat nuansa dialog ilmiah yang terbuka.
Pesan yang dapat diambil dari kegiatan ini adalah bahwa bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai jembatan untuk memahami identitas, sejarah, dan relasi antarperadaban. Melalui kajian lintas bahasa seperti ini, mahasiswa dan dosen diajak untuk lebih terbuka, kritis, dan inklusif dalam memandang perbedaan serta membangun dialog yang produktif.
Harapannya, kegiatan semacam ini dapat terus diselenggarakan secara berkelanjutan dengan tema-tema yang relevan dan mendalam, sehingga mampu memperkuat budaya akademik di lingkungan kampus. Selain itu, forum seperti ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa untuk mengembangkan minat riset, memperluas cakrawala keilmuan, serta menjalin kolaborasi dengan akademisi dari berbagai institusi. Ke depan, kegiatan ini juga diharapkan semakin mempertegas peran kampus sebagai ruang dialog ilmu, budaya, dan peradaban.


