Seminar Ilmiah yang mengangkat tema “Benarkah Al-Qur’an Merupakan Sastra Terindah”

Pada hari Sabtu, 24 April 2021, telah dilaksanakan kegiatan Seminar Ilmiah yang mengangkat tema “Benarkah Al-Qur’an Merupakan Sastra Terindah”. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Program Studi Bahasa dan Sastra Arab (BSA) dan bertempat di Gedung Arief Mustaqim Lantai 6, UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Seminar ini merupakan bagian dari program pengembangan akademik yang ditujukan untuk memperluas wawasan dan daya kritis mahasiswa dalam memandang hubungan antara teks keagamaan dan kajian sastra.

Kegiatan ini diikuti oleh seluruh mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Arab, serta turut dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai program studi lainnya di lingkungan UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Antusiasme peserta terlihat dari keaktifan mereka dalam menyimak materi dan berdiskusi dengan para narasumber.

Acara ini menjadi sangat istimewa karena menghadirkan Syekh Ahmed, seorang ulama dan akademisi yang merupakan utusan dari Mesir, sebagai tamu kehormatan dan narasumber utama. Dalam paparannya, beliau menyampaikan pandangan mendalam mengenai keindahan retorika dan struktur bahasa dalam Al-Qur’an, serta bagaimana keunikan tersebut tidak dapat disamai oleh karya sastra manapun dalam sejarah peradaban Arab. Beliau juga menegaskan bahwa Al-Qur’an bukan hanya teks suci, melainkan mukjizat linguistik yang menjadi sumber inspirasi dan kajian sepanjang masa.

Seminar ini menghadirkan ruang dialektika ilmiah yang membahas pertanyaan penting: apakah Al-Qur’an termasuk dalam kategori karya sastra, atau ia berdiri dalam posisi yang unik dan berbeda dari karya-karya sastra biasa? Melalui pendekatan linguistik, estetika, dan teologis, seminar ini mengajak peserta untuk memahami Al-Qur’an secara utuh, baik sebagai teks wahyu maupun sebagai manifestasi keindahan bahasa Arab yang agung.

Selama dua sesi utama yang dipandu oleh moderator, diskusi berjalan aktif dan interaktif. Mahasiswa diberi kesempatan untuk menyampaikan pandangan, bertanya, serta merespons pernyataan narasumber secara terbuka namun tetap santun. Kehadiran Syekh Ahmed turut memberikan perspektif autentik dari dunia Arab, yang memperkaya pemahaman peserta terhadap konteks historis dan kultural kebahasaan Al-Qur’an.

Melalui seminar ini, diharapkan mahasiswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan baru, tetapi juga terdorong untuk terus mengkaji Al-Qur’an secara kritis dan ilmiah tanpa mengurangi nilai-nilai kesucian dan spiritualitas yang terkandung di dalamnya. Seminar ini juga mempertegas komitmen Program Studi Bahasa dan Sastra Arab dalam mengembangkan kajian sastra dan bahasa yang berbasis pada nilai-nilai keilmuan, keislaman, dan keterbukaan intelektual.